Jakarta (KABARIN) - Presiden RI Prabowo Subianto menilai derasnya aliran modal ke luar negeri menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap mata uang asing dalam beberapa dekade terakhir.
Dalam sambutannya pada penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa, Prabowo mengibaratkan keluarnya kekayaan nasional secara terus-menerus seperti darah yang mengalir keluar dari tubuh hingga pada akhirnya menyebabkan kondisi ekonomi melemah.
Menurut Presiden, fenomena tersebut dikenal sebagai net outflow of national wealth, yakni kondisi ketika kekayaan yang dihasilkan di dalam negeri tidak banyak berputar di Indonesia, melainkan mengalir ke luar negeri.
Prabowo menjelaskan bahwa berdasarkan data internasional, Indonesia sebenarnya mencatat surplus neraca perdagangan selama 17 tahun dalam kurun waktu 22 tahun terakhir.
Namun, dari total surplus perdagangan sekitar 436 miliar dolar AS, sebanyak 343 miliar dolar AS disebut kembali mengalir ke luar negeri melalui pemilik modal.
Akibatnya, dana yang tersisa dan beredar di dalam negeri menjadi relatif terbatas sehingga manfaat dari surplus perdagangan tidak sepenuhnya dirasakan oleh perekonomian nasional.
Kepala Negara menegaskan pemerintah berkomitmen memperbaiki sistem ekonomi yang dinilainya belum berpihak sepenuhnya pada kepentingan domestik.
Langkah tersebut, menurut dia, merupakan bagian dari upaya menjaga kekayaan nasional agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia.
Prabowo kembali menekankan bahwa salah satu persoalan mendasar yang dihadapi Indonesia adalah terus mengalirnya kekayaan nasional ke luar negeri, sehingga perlu dilakukan pembenahan tata kelola ekonomi dan pengelolaan sumber daya secara lebih efektif.
Dalam dua dekade terakhir, nilai tukar rupiah memang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar AS.
Pada pertengahan 2000-an, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp9.000 per dolar AS, sebelum menghadapi berbagai tekanan akibat gejolak pasar keuangan global pada 2013, pandemi COVID-19, hingga konflik geopolitik yang mendorong rupiah sempat menembus level di atas Rp18.000 per dolar AS.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026